kjokom

Sebuah coretan …….

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam Transfer Knowledge

January3

Faktor-faktor tersebut adalah faktor kognitif, faktor budaya dan faktor motivasi.

Faktor Kognitif

Sains kognitif berkata bahwa manusia dapat menerima konsep-konsep baru jika hanya jika konsep tersebut tidak terlalu jauh dengan apa yang manusia tersebut sudah ketahui sebelumnya. Hal ini menyebabkan mengapa manusia membutuhkan waktu yang cukup untuk mempelajari sebuah subjek yang baru. Manusia harus belajar selangkah demi selangkah dari waktu ke waktu, dan masing-masing konsep baru harus meresap terlebih dahulu sebelum konsep selanjutnya dibangun di atasnya. Salah satu teknik untuk membuat proses TOK dapat berjalan dengan cepat dan efektif adalah dengan memecah-mecah knowledge yang akan ditransfer menjadi paket-paket kecil. Dengan cara ini, maka sekali proses TOK dilakukan, maka knowledge akan ditransfer secara streamline. Pada saat melakukan TOK, hal yang dibutuhkan adalah membuat pola knowledge yang tampak lebih dekat dengan knowledge lama sehingga penerima siap merentangkan tangan untuk merangkul informasi baru. Otak sebagai media penyimpan knowledge dapat menerima dan memproses secara paralel input-input dari berbagai indera (chanel input). Salah satu cara untuk menambah kecepatan proses belajar adalah dengan menggunakan beberapa chanel input sekaligus secara efektif. Accelerated Learning adalah sebuah teknik pembelajaran yang mengadopsi konsep pemanfaatan berbagai input secara paralel, misalnya: mencampur antara bercerita dan membaca, simulasi visual dan grafik. Cara tersebut mempercepat proses pembelajaran secara signifikan baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Faktor Budaya

Ada teori yang mengatakan bahwa kognisi juga dibentuk oleh budaya secara umum khususnya bahasa. Mungkin kita pernah menjumpai penggunaan sebuah kata, yang mana hanya latar belakang sosialbudaya tertentu yang memberikan arti yang tepat pada kata tersebut. Pada konsep ini, knowledge dapat diterima dan membenam dengan hanya membutuhkan sedikit langkah. Sebaliknya, jika kita mempunyai budaya yang berbeda dengan latar belakang dari mana knowledge berasal, maka proses pembelajaran menjadi lebih sulit. Setiap orang sudah memiliki banyak latar belakang budaya sendiri-sendiri yang akhirnya membangun budaya tertentu dalam dirinya. Ada budaya utama dan yang paling besar yang biasanya paling berpengaruh pada diri setiap manusia, budaya dimana dia dibesarkan, budaya dimana dia memperoleh pendidikan formal, budaya dalam lingkungan pekerjaan, budaya komunitas profesi atau budaya komunitas hobbi dimana dia ikut bergabung dan sebagainya. Intinya, seseorang memiliki budaya sendiri namun mempunyai kemampuan untuk menyerap budaya lain. Pada kasus TOK, dapat dilihat latar belakang budaya merupakan alat untuk menetapkan nilai dan kepercayaan yang memberikan konteks dan cara pandang. Dengan mengenal budaya karyawan yang ada, maka organisasi dapat mendesain sebuah metoda dan materi TOK yang dapat memberikan signal yang kompatibel untuk mentransfer informasi kepada karyawan.

Faktor Motivasi

Menurut Maslow, ada lima hirarki kebutuhan manusia, mulai dari level yang paling bawah (makanan, perlindungan, dan pakaian) sampai pada level yang paling tinggi (aktualisasi diri). Usaha untuk mencukupi kebutuhan ini akan menjadi motivasi manusia untuk melakukan tindakan. Sesuai dengan konsep Maslow di atas, maka setiap orang selalu berada pada kondisi level kebutuhan tertentu yang akan memotivasi orang tersebut untuk melakukan sesuatu. Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran adalah motivasi